Terkait Mewabahnya DB di Bojonegoro
Dinas Kesehatan Belum Tetapkan KLB
Cuaca tidak menentu dan kurangnya kepedulain masyarakat dalam berprilaku hidup bersih dan sehat menjadi factor utama meningkatknya penderita Demam Berdara (DB) di Bojonegoro. Demikian di sampaikan Kepala Dinas Kesehatan dr. Hj. Anik Yuliarsih, M.Si, pada Warta Bojone-goro di ruang kerjanya, belum lama ini.
Anik menjelaskan, meski penderita DB alami peningkatan dari bulan Desember hingga akhir Januari ini, tapi kondisi ter-sebut belum bisa di katakan sebagai keja-dian luar biasa (KLB). Pasalnya, jumlah penderita DB saat ini dibanding tahun lalu di bulan yang sama masih jauh dibawah-nya. Sedangkan untuk jumlah penderita DB dalam kurun waktu satu tahun kemarin mencapai 600 orang. Jumlah itu dipredik-sikan tidak akan berbeda jauh dengan tahun ini.
“Dari laporan yang masuk ke sini (Di-nas Kesehatan), bulan Dsember sampai Januari ini penderita DB sebanyak 25 orang. Memang banyak pasien DBD di Ru-mah sakit di Bojonegoro, tetapi semuanya tidak warga sini. Melainkan dari luar kabupaten, seperti Tuban, juga banyak yang dirawat inap di Bojonegoro,” kata Anik di dampingi Kasubdin Pencegahan dan Pemeberantasan Penyakit Penyehat-an Lingkungan (P2PL).
Menurutnya, sesuai dengan pengala-man tahun lalu, jumlah penderita DB akan mulai mengalami peningkatan pada bulan Januari hingga maret. Hal ini dikarenakan pada bulan-bulan tersebut kondisi cuaca mengalami perubahan dan tidak menen-tu. “Dan cuaca tidak menentu itulah yang akan membuat nyamuk cepat berkem-bang biak,” tegasnya.
Anik mengungkapkan, untuk mengan-tisipasi peningkatan jumlah penderita DB di Bojonegoro, Dinas Kesehatan jauh hari sebelum musim penghujan datang telah melakukan survey epidionologi bersama jajajarannya yakni Puskesmas untuk me-ngetahui daerah-daerah yang rawan penyebaran DB.
Setelah dilakukan survey tersebut, lanjutnya, diteruskan dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat melalui Puskes-mas,Posyandu, dan lembaga social se-perti PKK, untuk melakukan pemberan-tasan sarang nyamuk (PSN), penaburan bubuk abate, pemogingan (penyem-protan). Namun, menurut Anik, dari upa-ya-upaya tersebut yang terpenting untuk menekan jumlah penderita DB adalah kepedulian masyarakat dalam membe-rantas sarang nyamuk dan berbudaya hidup bersih dan sehat.
“Kalau di fogging saja tanpa di sertai dengan itu sulit sekali akan memberantas DB. Sebab, kalau di fogging yang mati hanya nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telurnya masih bisa berkembang biak. Untuk itu saya harapkan masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan menjaga keber-sihan dan kesehat-an,” imbaunya.
Ia menam-bahkan, untuk menghindari korban nyawa aki-bat serangan DB ini, diharapkan masyarakat sege-ra membawa anak-anaknya ke pusat kesehatan terdekat jika me-ngalami demam, pusing, dan mual. Se-hingga dengan begitu bisa sege-ra bisa mendapat pertolongan dari tenaga medis di desa. “Karena pe-nyakit ini menye-rangnya menda-dak sekali, untuk menghindari hal-hal yang tidak di-inginkan saya ha-rapkan jangan sampai telat membawanya ke pusat kesehatan terdekat,” imbau Anik. (wi)