13.007 ha Lahan Pertanian Rusak Akibat Banjir
Bencana banjir di ujung tahun 2007 lalu telah melumpuhkan sendi-sendi pereko-nomian di Kabupaten Bojonegoro. pasalnya, 85 persen wilayah Bojonegoro tergenang air. Akibatnya, tidak hanya fasilitas umum yang rusak, banjir terbesar dalam sejarah meluapnya sungai Bengawan Solo itu ribuan hektar pertanian di wilayah Bojonegoro juga dipastikan gagal panen. Sedikitnya, 13.007 lahan pertanian di 147 desa di 17 kecamat-an terendam air. Akibatnya bencana terse-but kerugian dari sektor pertanian diatksir mencapai Rp. 93.352.000.000.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojo-negoro Ir. Parwoto menjelaskan, akibat ben-cana banjir itu pertanian di 17 kecamatan mengalami rusak berat. Tidak hanya padi yang baru ditanam, tanaman padi yang ting-gal panen pun tidak luput dari terjangan air sungai bengawan Solo. Dengan kondisi tersebut dipastikan para petani di 17 keca-matan itu terpaksa harus menanam ulang dan gagal memanen.
“Pemerintah tidak akan tinggal diam dan menutup mata atas musibah ini. Pemkab akan berkoordinasi dengan Pemrop Jatim dan Pusat agar segera memberikan bantuan bibit padi kepada para petani yang lahannya kebanjiran sehingga mereka bisa menanam lagi,” ungkap Parwoto.
17 kecamatan lahan pertanian yang ter-kena bencana banjir itu adalah Kecamatan Ngraho sebanyak 8 desa, rinciannya tanam-an padi seluas 192 ha, jagung 19 ha, pala-wija 2 ha, dengan jumlah kerugian men-capai Rp. 1,639 milyar; Kecamatan Purwosari sebanyak 1 desa, padi seluas 20 ha dan jagung 10 ha, dengan kerugiannya Rp. 220 juta; Kecamatan Kalitidu sebanyak 20 desa, padi seluas 1660 ha dengan kerugian Rp. 13,4 milyar; Kecamatan Kapas 10 desa, ta-naman padi seluas 813 ha dengan kerugian Rp. 5.148 milyar.
Selain itu, banjir juga menggenangi lahan pertanian di 4 desa di Kecamatan Bojo-negoro yakni padi seluas 177 ha, palawija 7 ha dengan total kerugian mencapai Rp. 1,978 milyar; Kecamatan Trucuk 12 desa, kerusakan padi 713 ha, jagung 150 ha, total kerugian Rp. 6,745 milyar; Kecamatan Baurno sebanyak 21 desa, kerusakan padi 2.775 ha, jagung 147 ha, total kerugian Rp. 18,572 milyar; Kecamatan Padangan sebanyak 13 desa, kerusakan padi 688 ha padi, jagung 98 ha, palawija 8 ha, keru-giannya Rp. 7,210 milyar; dan Kecamatan Dander sebanyak 3 desa, kerusakan padi seluas 575 ha dengan kerugian mencapai Rp. 6.150 milyar.
Sementara itu, kecamatan lainnya ada-lah Kecamatan Kanor sebanyak 20 desa, kerusakan padi 2216 ha dan jagung 115 ha, dengan total kerugian mencapai Rp. 8,249 milyar; Kecamatan Kasiman 6 desa, lahan padi yang rusak seluas 379 ha dan jagung 47 ha, total kerugian Rp. 3,684 mil-yar; Kecamatan Balen 9 desa, kerusakan padi 1.185 ha dan jagung 30 ha, kerugian-nya Rp. 13,410 milyar; KecamatanNgasem 1 desa, kerusakan padi 7 ha jumlah keru-gian Rp. 42 juta; Kecamatan Kepohbaru 2 desa, kerusakan padi 214 ha dan jagung 30 ha, kerugiannya Rp. 1,290 milyar.
Sedangkan lahan pertanian yang rusak 3 kecamatan lainnya yaitu di Kecamatan Sumberjo sebanyak 1 desa, keruskan lahan padi seluas 45 ha, total kerugian Rp. 270 juta; Kecamatan Malo 14 desa, padi yang rusak 559 ha dan jagung 45 ha, jumlah kerugian Rp. 4,747 milyar; dan di Kecamatan Margomulyo sebanyak 2 desa, dengan keru-sakan padi seluas 43 ha, jagung 38 ha, palawija 5 ha, jumlah total kerugian Rp.593 juta.
Seperti diketahui, banjir besar yang me-landa wilayah Bojonegoro mengundang ke-prihatinan kabupaten lain di Jawa Timur un-tuk mengulurkan tangan memberikan ban-tuan berupa makanan dan kesehatan pada para korban. Tidak hanya itu, bencana ban-jir hampir juga menyita perhatian Menteri Pertanian, Anton Prianto, untuk menyem-patkan diri datang ke Bojonegoro untuk ikut merasakan penderitaan korban benca-na banjir dan lahan-lahan pertanian yang rusak. (wi)